Rabu, 07 November 2012

puisi perjuangan


GERILYA 
Oleh :W.S. Rendra
Tubuh biru 
tatapan mata biru 
lelaki berguling di jalan
Angin tergantung 
terkecap pahitnya tembakau 
bendungan keluh dan bencana
Tubuh biru 
tatapan mata biru 
lelaki berguling dijalan
Dengan tujuh lubang pelor 
diketuk gerbang langit 
dan menyala mentari muda 
melepas kesumatnya
Gadis berjalan di subuh merah 
dengan sayur-mayur di punggung 
melihatnya pertama
Ia beri jeritan manis 
dan duka daun wortel
Tubuh biru 
tatapan mata biru 
lelaki berguling di jalan
Orang-orang kampung mengenalnya 
anak janda berambut ombak 
ditimba air bergantang-gantang 
disiram atas tubuhnya
Tubuh biru 
tatapan mata biru 
lelaki berguling dijalan
Lewat gardu Belanda dengan berani 
berlindung warna malam 
sendiri masuk kota 
ingin ikut ngubur ibunya
Siasat 
Th IX, No. 42 1955

PIDATO SEORANG DEMONSTRAN
Karya: Mansur Samin

Mereka telah tembak teman kita 
ketika mendobrak sekretariat negara
sekarang jelas bagi saudara
sampai mana kebenaran hukum di Indonesia

Ketika kesukaran tambah menjadi 
para menteri sibuk ke luar negeri
tapi korupsi tetap meraja
sebab percaya keadaan berubah
rakyat diam saja

Ketika produksi negara kosong 
para pemimpin asyik ngomong
tapi harga-harga terus menanjak
sebab percaya diatasi dengan mupakat
rakyat diam saja

Di masa gestok rakyat dibunuh 
para menteri saling menuduh
kaum penjilat mulai beraksi
maka fitnah makin berjangkit
toh rakyat masih terus diam saja

Mereka diupah oleh jerih orang tua kita 
tapi tak tahu cara terima kasih, bahkan memfitnah
Kita dituduh mendongkel wibawa kepala negara
apakah kita masih terus diam saja?

SEBUAH JAKET BERLUMUR DARAH
Karya: Taufiq Ismail
Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah berbagi duka yang agung
Dalam kepedihan bertahun-tahun

Sebuah sungai membatasi kita 
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja

Akan mundurkah kita sekarang 
Seraya mengucapkan 'Selamat tinggal perjuangan'
Berikrar setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?

Spanduk kumal itu, ya spanduk itu 
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang

Pesan itu telah sampai kemana-mana 
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
LANJUTKAN PERJUANGAN

1966 .

ODE     II
Oleh : Toto Sudarto Bahtiar
dengar, hari ini ialah hari hati yang memanggil 
dan derap langkah yang berat maju ke satu tempat 
dengar, hari ini ialah hari hati yang memanggil 
dan kegairahan hidup yang harus jadi dekat
berhenti menangis, air mata kali ini hanya buat si tua renta 
atau menangis sedikit saja 
buat sumpah yang tergores pada dinding-dinding 
yang sudah jadi kuning dan jiwa-jiwa yang sudah mati
atau buat apa saja yang dicintai dan gagal 
atau buat apa saja 
yang sampai kepadamu waktu kau tak merenung 
dan menampak jalan yang masih panjang
dengar, hari ini ialah hari hatiku yang memanggil 
mata-mata yang berat mengandung suasana 
membersit tanya pada omong-omong orang lalu 
mengenangkan segenap janji yang dengan diri kita menyatu
dengarlah, o, tanah di mana segala cinta merekamkan dirinya 
tempat terbaik buat dia 
ialah hatimu yang kian merah memagutnya 
kalah dia terbaring di makam senyap pangkuanmu *
*kenangan buat matinya seorang pejuang 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar