Senin, 09 September 2013

Kumpulan Puisi Sutardji


KUMPULAN PUISI SUTARDJI CALZOUM BACHRI

AYO

 
 
 Adakah yang lebih tobat
 
dibanding air mata
 
adakah yang lebih mengucap
 
dibanding airmata
 
adakah yang lebih nyata
 
adakah yang lebih hakekat
 
dibanding airmata
 
adakah yang lebih lembut
 
adakah yang lebih dahsyat
 
dibanding airmata
para pemuda yang 
melimpah di jalan jalan
 
itulah airmata
 
samudera puluhan tahun derita
 
yang dierami ayahbunda mereka
 
dan diemban ratusan juta
 
mulut luka yang terpaksa
 
mengatup diam
kini airmata 
lantang menderam
meski muka kalian 
takkan dapat selamat
 
di hadapan arwah sejarah
 
ayo
 
masih ada sedikit saat
 
untuk membasuh
 
pada dalam dan luas
 
airmata ini
ayo 
jangan bandel
 
jangan nekat pada hakekat
 
jangan kalian simbahkan
 
gas airmata pada lautan airmata
 
                          malah tambah merebak
 
jangan letupkan peluru
 
logam akan menangis
 
dan tenggelam
 
             dikedalaman airmata
 
jangan gunakan pentungan
 
mana ada hikmah
 
mampat
 
karena pentungan
para muda yang raib nyawa 
karena tembakan
 
yang pecah kepala
 
sebab pentungan
 
memang tak lagi mungkin
 
jadi sarjana atau apa saia
namun 
mereka telah
 
nyempurnakan
 
bakat gemilang
 
sebagai airmata
 
yang kini dan kelak
 
selalu dibilang
 
bagi perjalanan bangsa
 
 
OASE: Sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri 
Republika
 edisi : 28 November 1999
BATU
batu mawar 
batu langit
 
batu duka
 
batu rindu
 
batu janun
 
batu bisu
 
kaukah itu
 
                teka
 
                        teki
 
yang
 
tak menepati janji ?
Dengan seribu gunung langit tak runtuh dengan seribu perawan 
hati takjatuh dengan seribu sibuk sepi tak mati dengan
 
seribu beringin ingin tak teduh.  Dengan siapa aku mengeluh?
 
Mengapa jam harus berdenyut sedang darah tak sampa mengapa gunung harus meletus sedang langit tak sampai mengapa peluk
 
diketatkan sedang hati tak sampai mengapa tangan melambai
 
sedang lambai tak sampai.  Kau tahu
  
batu risau
 
batu pukau
 
batu Kau-ku
 
batu sepi
 
batu ngilu
 
batu bisu
 
kaukah itu
 
                        teka
 
                teki
 
                yang
 
tak menepati
 
                janji ?

 
Memahami Puisi, 1995 
Mursal Esten

BAYANGKAN
untuk Salim Said 
direguknya 
wiski
 
direguk
 
direguknya
 
bayangkan kalau tak ada wiski di bumi 
sungai tak mengalir dalam aortaku katanya
 
di luar wiski 
di halaman
 
anak-anak bermain
 
bayangkan kalau tak ada anak-anak di bumi
 
aku kan lupa bagaimana menangis katanya
 
direguk 
direguk
 
direguknya wiski
 
sambil mereguk tangis
 
lalu diambilnya pistol dari laci 
bayangkan kalau aku tak mati mati katanya
 
dan ditembaknya kepala sendiri
 
bayangkan
 
1977 
JEMBATAN 
 
Sedalam-dalam sajak takkan mampu menampung airmata 
bangsa. Kata-kata telah lama terperangkap dalam basa-basi
 
dalam teduh pekewuh dalam isyarat dan kisah tanpa makna.
 
Maka aku pun pergi menatap pada wajah berjuta. Wajah orang
 
jalanan yangberdiri satu kaki dalam penuh sesak bis kota.
 
Wajah orang tergusur. Wajah yang ditilang malang. Wajah legam
 
para pemulung yang memungut remah-remah pembangunan.
 
Wajah yang hanya mampu menjadi sekedar penonton etalase
 
indah di berbagai palaza. Wajah yang diam-diam menjerit
 
mengucap
 
tanah air kita satu
 
bangsa kita satu
 
bahasa kita satu
 
bendera kita satu !
 
Tapi wahai saudara satu bendera kenapa sementara jalan jalan
 
mekar di mana-mana menghubungkan kota-kota, jembatan-jembatan
 
tumbuh kokoh merentangi semua sungai dan lembah
 
yang ada, tapi siapakah yang akan mampu menjembatani jurang
 
di antara kita ?
 
Di lembah-lembah kusam pada puncak tilang kersang dan otot
 
linu mengerang mereka pancangkan koyak-miyak bendera hati
 
dipijak ketidakpedulian pada saudara. Gerimis tak ammpu
 
mengucapkan kibarnnya.
 
Lalu tanpa tangis mereka menyanyi padamu negeri airmata kami.

 O
dukaku dukakau dukarisau dukakalian dukangiau 
resahku resahkau resahrisau resahbalau resahkalian
 
raguku ragukau raguguru ragutahu ragukalian
 
mauku maukau mautahu mausampai maukalian maukenal maugapai
 
siasiaku siasiakau siasia siabalau siarisau siakalian siasia
 
waswasku waswaskau waswaskalian waswaswaswaswaswaswaswaswaswas
 
duhaiku duhaikau duhairindu duhaingilu duhaikalian duhaisangsai
 
oku okau okosong orindu okalian obolong o risau o Kau O...
 
GAJAH DAN SEMUT
tujuh gajah 
cemas
 
meniti jembut
 
serambut
 
tujuh semut 
turun gunung
 
terkekeh
 
kekeh
 
perjalanan 
kalbu
 
1976-1979 
IDUL FITRI
Lihat 
Pedang tobat ini menebas-nebas hati
 
dari masa lampau yang lalai dan sia-sia
 
Telah kulaksanakan puasa ramdhanku,
 
      telah kutegakkan shalat malam
 
telah kuuntaikan wirid tiap malam dan siang
 
Telah kuhamparkan sajadah
 
Yang tak hanya nunu Ka'bah
 
tapi ikhlas mencapai hati dan darah
 
Dan di malam-malam Lailatul Qadar akupun menunggu
 
Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya
 
Maka aku girang-girangkan hatiku 
Aku bilang: Tardji rindu yang kau wudhukan setiap malam Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang Namun si
 
bandel Tardji ini sekali merindu Takkan pernah melupa Takkan kulupa janjiNya Bagi yang merindu insya-Allah kan
 
ada mustajab Cinta
 
Maka walau tak jumpa denganNya 
Shalat dan zikir yang telah membasuh jiwaku ini
 
Semakin mendekatkan aku padaNya
 
Dan semakin dekat
 
semakin terasa kesiasiaan pada usia lama yang lalai
 
        berlupa
 
O lihat Tuhan, kini si bekas pemabuk ini 
ngebut di jalan lurus Jangan kau depakkan lagi aku ke trotoir tempat usia lalaiku menenggak arak di warung dunia
 
Kau biarkan aku menenggak marak cahayaMu di ujung usia
 
O usia lalai yang berkepanjangan 
yang menyebabkan aku kini ngebut di jalan lurus Tuhan jangan Kau depakkan lagi aku di trotoir tempat dulu aku
 
menenggak arak di warung dunia
 
Maka pagi ini 
Kukenakan zirah la ilaha illallah aku pakai sepatu siratal mustaqiem akupun lurus menuju lapangan tempat shlat ied
 
Aku bawa masjid dalam diriku Kuhamparkan di lapangan Kutegakkan shalat dan kurayakan kelahiran kembali di sana
 
NGIAU
Suatu gang panjang menuju lumpur dan terang tubuhku mengapa 
panjang.Seekor kucing menjinjit tikus yang menggelepar
 
tengkuknya. Seorang perempuan dan seorang lelaki bergigitan.
 
Yang mana kucing yang mana tikusnya? Ngiau! Ah gang
 
yang panjang. Cobalah tentukan! Aku kenal Afrika aku kenal
 
Eropa aku tahu Benua aku kenal jam aku tagu jentara
 
aku kenal terbang. Tapi bila dua manusia saling gigitan
 
menanamkan gigi-gigi sepi mereka akan ragu menetapkan yang
 
mana suka yang mana luka yang mana hampa yang mana
 
makna yang mana orang yang mana kera yang mana dosa yang
 
mana surga.
 
PARA PEMINUM
di lereng lereng 
para peminum
 
mendaki gunung mabuk
 
kadang mereka terpeleset
 
jatuh
 
dan mendaki lagi
 
memetik bulan
 
di puncak
 
mereka oleng 
tapi mereka bilang
 
--kami takkan karam
 
dalam lautan bulan--
 
mereka nyanyi nyai
 
jatuh
 
dan mendaki lagi
 
di puncak gunung mabuk 
mereke berhasil memetik bulan
 
mereka mneyimpan bulan
 
dan bulan menyimpan mereka
 
di puncak 
semuanya diam dan tersimpan
 
WALAU
walau penyair besar 
takkan sebatas allah
 
dulu pernah kuminta tuhan 
dalam diri
 
sekarang tak
 
kalau mati 
mungkin matiku bagai batu tamat bagai pasir tamat
 
jiwa membumbung dalam baris sajak
 
tujuh puncak membilang bilang 
nyeri hari mengucap ucap
 
di butir pasir kutulis rindu rindu
 
walau huruf habislah sudah 
alifbataku belum sebatas allah
 
1979 
SEPISAUPI
sepisau luka sepisau duri 
sepikul dosa sepukau sepi
 
sepisau duka serisau diri
 
sepisau sepi sepisau nyanyi
sepisaupa sepisaupi 
sepisapanya sepikau sepi
 
sepisaupa sepisaupoi
 
sepikul diri keranjang duri
sepisaupa sepisaupi 
sepisaupa sepisaupi
 
sepisaupa sepisaupi
 
sampai pisauNya ke dalam nyanyi
1973

  TRAGEDI WINKA & SIHKA 
 Oleh: Sutardji Calzoum Bachri


 kawin 
         kawin
 
                  kawin
 
                          kawin
 
                                        kawin
 
                                  ka
 
                              win
 
                           ka
 
                      win
 
                  ka
 
              win
 
          ka
 
    win
 
ka
 
    winka
 
            winka
 
                    winka
 
                            sihka
 
                                    sihka
 
                                            sihka
 
                                                    sih
 
                                                ka
 
                                            sih
 
                                        ka
 
                                    sih
 
                                ka
 
                            sih
 
                        ka
 
                    sih
 
                ka
 
                    sih
 
                        sih
 
                            sih
 
                                sih
 
                                    sih
 
                                        sih
 
                                            ka
 
                                                Ku