RT NOL RW NOL
Karya: Iwan Simatupang
SINOPSIS
Disebuah kota besar hiruk – pikuk kendaraan yang melintas di atas jembatan
yang tidak begitu besar, hidup beberapa orang di bawahnya. Seorang kakek
tinggal di bawah kolong jembatan itu dia adalah mantan klasi kapal, ada pula Si
pincang dengan kondisi fisiknya yang kurang telah mencari kerja kemana – mana
dan tidak pernah mendapatkan hasil yang memuaskan, dengan di temani Ani
dan Ina kakak – beradik yang bekerja sebagai PSK ( Pekerja Seks Komersial
) mereka meratapi kejamnya kota besar.
Yang kemudian membawa sebuah permasalahan pelik diantara mereka, Pincang
telah putus asa dengan kehidupan yang Ia alami, karena tidak pernah satu pun ia
berhasil mendapatkan sebuah pekerjaan yang dapat menunjang kebutuhan hidupnya.
Datanglah seorang laki – laki bernama Bopeng, Ia adalah mantan penghuni
kolong jembatan tempat tinggal kakek, pincang, Ani dan Ina. Ia telah bekerja di
sebuah kapal sebagai Klasi Kapal, tapi Ia membawa seorang wanita
bersamanya yang bernama Ati. Ati adalah sosok wanita yang mencari Suaminya yang
entah kemana telah menghilang dan kemudian Ia tersesat dan kehabisan uang untuk
pulang ke kampungnya.
Karena iri hati Pincang pun selalu memojokkan Bopeng, karena pada awal
bertemu dengan Ati, Bopeng berjanji untuk mengantarkannya pulang ke kampung
tetapi karena adanya panggilan kerja sebagai klasi kapal Bopeng mengurungkan
niat tersebut.
Setelah pertengkaran argumen antara Si Pincang dan Bopeng, akhirnya kakek
pun menengahi pertengkaran mereka, selang beberapa waktu Ani dan Ina pun datang
setelah bekerja dengan membawa kabar bahwa mereka akan dinikahi oleh Pria yang
menjadi langganan mereka. Akhirnya mereka meninggalkan kolong jembatan yang
menjadi tempat mereka tinggal. Disusul oleh bopeng dan Si pincang yang akan
berjuang mengantarkan Ati kembali ke kampung halamannya dan berjanji mencari
pekerjaan kembali dan menikahi Ati. Akhir cerita Tinggal lah Kakek sendiri di
bawah jembatan itu yang mereka semua memberi nama tempat tinggal mereka RT NOL
RW NOL.
APRESIASI
1.
Tema : Tema dari naskah drama Rt 0/ Rw 0 ini adalah realita sosial perjuangan
hidup. Terlihat dari dialog-dialog yang yang idealis dan lebih menonjolkan
sikap pantang menyerah.
2. Amanat : Amanat dalam naskah RT NOL RW NOL ini yaitu sebagai manusia harus selalu
berusaha dan berjuang dalam menjalani hidup tanpa ada keputusasaan dalam hidup.
3.
Alur : Adapun alur yang terdapat pada drama RT NOL RW NOL adalah alur maju atau
alur lurus. Dimana penulis naskah drama menceritakan dari awal mula adegan
sampai pada akhir adegan.
4.
Latar : Latar yang terdapat pada drama ini terdapat latar tempat dan latar waktu.
Latar tempat yang terdapat pada drama ini berlatar dibawah jembatan besar.
Penulis naskah ini dengan jelas menuliskan latar yang terdapat dalam drama ini.
5. Sudut pandang: orang pertama dan orang ketiga.
6. Suasana :
- Tegang
Kutipan: “Kalau maksudmu, bahwa gara-gara ucapanku yang barusan kita
terpaksa berkelahi. Ayo berkelahi!”
- Bahagia
Kutipan: “Aku berharap, suatu hari dapat melihat kau lewat, naik becak
suamimu, kau dan anakmu sehat dan montok-montok. Selamat jalan, Nak.”
7. Tokoh dan Penokohan :
1.
Kakek :
Bijaksana
Kutipannya : “Jangan bingungkan dirimu lebih lama lagi dalam
kerangka-kerangka kata-kata mu yang meawang itu.”
Penyabar
Kutipannya: “kelenggangan disebabkan perpisahan, terkadang lebih parah dari
kematian sendiri. Mengapa pula kita, manusia-manusia gelandangan, berbuat
seolah tak mengerti itu?”
2.
Pincang : Pemarah
Kutipannya: “Apa aku harus menutup mulutku terus? Mengapa setiap ucapanku
kau anggap sebagai cari fasal saja?”
3.
Ani
:
Keras kepala
Kutipannya: “Semuanya itu akan kami nikmati mala mini. Cara apapun akan
kami jalani, asal kami dapat menemukannya malam ini. Ya, mala mini juga!”
Pantang menyerah
Kutipannya: “Terus, pantang mundur! Kita bukan dari garam, kan?”
4.
Bopeng : Rendah
Hati
Kutipannya: “Sabar. Rokok sungguhpun ada. Malah sebungkus utuh.”
5.
Ina
: Penyabar
Kutipannya: “Sudahlah Kak. Hujan atau tak hujan, kita tetap keluar.”
6. Ati
: Pemalu
Kutipannya: “Malu Kek. Kami berangkat dari sana dengan pesta dan doa.
Segala pakaian dan perhiasan emasku didalamnya, telah dia bawa kabur.”
Hal ini dapat terlihat dari paparan penulis dari naskah tersebut.
….KAKEK
Rupa-rupanya, mau hujan lebat.
PINCANG (Tertawa)
Itu kereta-gandengan lewat, kek!
KAKEK
Apa?
PINCANG
Itu, truk yang pakai gandengan, lewat.
KAKEK (Menggeleng-Gelengkan Kepalanya, Sambil Mengaduk Isi Kaleng Mentega
Di Atas Tungku)
Gandengan lagi! Nanti roboh jembatan ini. Bukankah dilarang gandengan lewat di
sini.
ANI
Lalu?
KAKEK
Hendaknya, peraturan itu diturutlah. ….
…. HUJAN TELAH REDA. KEMBALI JELAS DERU-DERU LALU LINTAS DI ATAS JEMBATAN.
MASUK BOPENG DAN ATI.
BOPENG
Belum tidur kalian?
PINCANG
Hm, lambat juga kau pulang kali ini.
KAKEK
Ada puntung?
BOPENG (Tertawa)
Sabar. Rokok sungguhanpun ada. Malah sebungkus utuh. Juga aku bawa nasi rames
empat bungkus.
KAKEK
Na… nasi rames? Kau kan tak merampok hari ini?
BOPENG (Tertawa)
Syukur, belum sejauh itu aku perlu merendahkan diriku, Kek.
Hingga pada akhir adegan terlihat jelas bahwa alur cerita adalah alur
lurus.
KEDENGARAN SESEKALI DERU LALU LINTAS DI ATAS JEMBATAN. BUNYI-BUNYI MALAM DARI
JANGKRIK, KODOK, DLL, DI BAWAH JEMBATAN.
ATI (Setelah Lama Hening)
Mengapa Abang ini harus pulang pergi mengantarkan aku?
KAKEK (Curiga)
Apa maksudmu?
ATI
Eh, apa salahnya dia tinggal sambil istirahat sebentar di kampungku. Siapa
tahu, di sana ada kerja yang cocok untuknya.
KAKEK (Setelah Menyenggol Pincang Keras-Keras Dengan Sikunya Di Samping)
Akur! Aku setuju banget, dia tinggal dulu sekedar istirahat di sana, asal saja
orang tuamu setuju di sana, sudah tentu.
Kutipan ALUR
KOLONG SUATU JEMBATAN UKURAN SEDANG, DI SUATU KOTA BESAR. PEMANDANGAN BIASA
DARI SUATU PEMUKIMAN KAUM GELANDANGAN.LEWAT SENJA. TIKAR-TIKAR ROBEK. PAPAN-PAPAN. PERABOT-PERABOT BEKAS RUSAK.
KALENG-KALENG MENTEGA DAN SUSU KOSONG. LAMPU-LAMPU TOMPLOK.
DUA TUNGKU, BERAPI. DI ATASNYA KALENG MENTEGA, DENGAN ISI BERASAP. SI PINCANG
MENUNGGUI JONGKOK TUNGKU YANG SATU, YANG SATU LAGI DITUNGGUI OLEH KAKEK. ANI
DAN INA, DALAM KAIN TERLILIT TIDAK RAPIH, DAN KUTANG BERWARNA, ASYIK DANDAN
DENGAN MASING-MASING DI TANGANNYA SEBUAH CERMIN RETAK. SEKALI-KALI KEDENGARAN
SUARA GEMURUH DI ATAS JEMBATAN, TANDA KENDARAAN BERAT LEWAT. SUARA GEMURUH
LAGI.
kutipan TEMA
INA
Abang selama ini telah banyak bercerita padaku tentang masa depan, tentang
cita-cita dan bahagia. Tapi, aku sedikitpun tak ada melihat, bahwa Abang
sungguh-sungguh ingin menebus kata-kata itu dengan perbuatan. Terus terang
saja, Bang, aku memang selalu mengagumi ucapan-ucapan Abang. Sungguh
dalam-dalam maknanya! Dan kata-kata, dengan mana Abang mengatakannya sungguh
lain dari yang lain. Bermalam-malam aku, tergolek di samping Abang (Suara
Batuk-Batuk Kakek), melanturkan angan-anganku menerawang entah kemana: Ah,
sekiranya betullah semua yang diucapkan laki-laki pujaanku ini, aku pastilah jadi
wanita yang paling bahagia di dunia ini.
Tapi, dengan hati yang pedih aku dari hari kehari melihat, dan mengalami,
bahwa semua ucapan Abang itu bakal tetap tinggal cuma kata-kata saja. Aku
melihat pada diri Abang semacam kejanggalan laku dan sikap untuk berbuat, untuk
bertindak. Abang gamang berbuat sesuatu. Abang adalah manusia khayal dan
kata-kata semata, dan asing sekali di bumi dari otot-otot, debu, deru dan
keringat berkucuran. Semula masih ada harapanku diam-diam, bahwa Abang pada
suatu hari akan mengungkapkan diri Abang sebagai seorang pengarang. Tapi,
alangkah kecewanya aku melihat, betapa Abang telah menghambur-hamburkan
kerangka karangan-karangan Abang itu dalam percakapan-percakapan kecil tentang
kisah-kisah kecil yang menjemukan di kolong jembatan ini. Ya, kolong jembatan
ini telah membunuh dan mengubur tokoh pengarang pada diri Abang itu. Dan aku,
gelandangan biasa saja, yang diburu oleh sekian kekurangan dan kenangan buruk
di masa yang lampau, aku tak mampu lagi mencernakan kata-kata Abang itu
sebagaimana mestinya. Walhasil, bagiku Abang adalah seorang aneh, tak lebih dan
tak kurang dari seorang parasit…
Dan bila aku tadi menerima lamaran bang becak itu, maka itu berarti, bahwa
belum tentu aku mencintainya; itu berarti, bahwa pada hakekatnya aku masih
tetap pengagum kata-katamu yang dalam-dalam maknanya itu. Tapi juga, Bang,
bahwa aku lebih gandrung akan kepastian, kenyataan dan kejelasan. Bukannya aku
tak sadar, apa dan bagaimana nasib seorang isteri dari seorang bang becak.
Mungkin aku bukan isterinya satu-satunya. Mungkin aku akan berhari-hari tak
melihat dia, tak menerima uang belanja. Mungkin tak lama lagi aku bakal jadi
perawat dia yang sudah teruk dan tak kuat lagi menarik becaknya, batuk-batuk
darah. Tapi, itu semuanya rela kuterima, Bang, demi – dapatnya aku memiliki
sebuah kartu penduduk! (Menangis) Kartu penduduk, yang bagiku berarti:
berakhirnya segala yang tak pasti. Berakhirnya rasa takut dan dikejar-kejar
seolah setiap saat polisi datang untuk merazia kita, membawa kita dengan truk-truk
terbuka keneraka-neraka terbuka yang di koran-koran disebut sebagai
“taman-taman latihan kerja untuk kaum tuna karya”. Gambar kita di atas truk
terbuka itu dimuat besar-besar di koran. Tapi, kemudian koran-koran bungkem
saja mengenai penghinaan-penghinaan yang kita terima di sana. Kemudian kita
dengan sendirinya berusaha dapat lari dari sana, untuk kemudian terdampar lagi
di tempat-tempat seperti ini. Tidak, Bang! Mulai sekarang, aku mengharapkan
tidurku bisa nyenyak, tak lagi sebentar-sebentar terkejut bangun, basah kuyup
oleh keringat dingin.
Kemudian dialog dari si Pincang
PINCANG
Ya, aku telah bertekad ingin memulai segala-galanya dengan benar-benar suci
bersih. Aku besok mengantarnya kesana dengan tidak sedikitpun anggapan sebagai
calon menantu seperti yang kalian gambarkan tadi. Apa alasanku untuk menganggap
begitu saja, bahwa orang tuanya secara otomatis bakal menerima aku sebagai
menantunya? Kemungkinan, bahkan hak penuh mereka untuk menolak aku, tetaplah
ada dan ada baiknya sejak semula ikut diperhitungkan. Ya, aku ingin kesana,
tapi dengan patokan bermula: aku benar-benar ingin kerja. Kembali kerja!
Kembali merasakan keutuhan dan kedaulatan tubuhku di dalam teriknya matahari,
dengan kesadaran bahwa butir-butir keringatku yang mengucur itu adalah
taruhanku untuk sesuap nasi yang halal. Soal menantu, kawin, cinta… ah,
hendaknya aku diperkenankan kiranya tidak dulu mempunyai urusan apa-apa dengan
itu semuanya. Kerangka-kerangka yang disebut Ina tadi, ingin kukubur…
setidaknya untuk sementara dulu. Aku ingin mengembalikan seluruh kedirianku
kembali kekesegarannya semula, yang dulu… entah telah berapa puluh tahun yang
lalu, telah hilang… oleh salahku sendiri. Aku harap, Ina, maupun orang tuanya,
sudi memandang diriku dalam kerangka persoalan seperti ini, dan tidak
menganggap aku di sana sebagai lebih dari itu. Aku datang sebagai pelamar
kerja, pelamar keadaan dan kemungkinan hidup yang baik kembali. (Suaranya
Turun, Nafasnya Satu-Satu) Sudah tentu, sudah tentu… kalian berhak menolak
lamaranku…
Dan dialog dari Kakek
KAKEK
Ah, kau tak tahu apa arti kolong jembatan ini dalam hidupku. Sebagian dari
hidupku, kuhabiskan di sini. Memang, dia milik siapa saja yang datang kemari
karena rupa-rupanya memang tak dapat berbuat lain lagi. Ia milik
manusia-manusia yang terpojok dalam hidupnya. Yang kenangannya berjungkiran,
dan tak tahu akan berbuat apa dengan harapan-harapan dan cita-citanya. Yang
meleset menangkap irama dari kurun yang sedang berlaku. (KEMBALI MENGUAP) Pada
diriku, semuanya yang kusebut tadi itu terdapat saling tindih menindih,
berlapis-lapis, dan sebagai selaput luarnya yang makin keras: usiaku yang
semakin tua! Semakin tua kita, semakin lamban kita, semakin keluar kita dari
rel… dan akhirnya: dari tuna karya, kita jadi tuna hidup. Selanjutnya, tinggallah
lagi kita jadi beban bagi kuli-kuli kotapraja yang membawa mayat kita ke RSUP.
Apabila kita mujur sedikit, maka pada saat terakhir mayat dan tulang-tulang
kita masih dapat berjasa bagi ilmu urai kedokteran, menjadi pahlawan-pahlawan
tak dikenal bagi kemanusiaan. (MENGUAP) Ah, selamat malam…
AMANAT
Bisa dilihat dari dialog berikut.
PINCANG
Ya, aku telah bertekad ingin memulai segala-galanya dengan benar-benar suci
bersih. Aku besok mengantarnya kesana dengan tidak sedikitpun anggapan sebagai
calon menantu seperti yang kalian gambarkan tadi. Apa alasanku untuk menganggap
begitu saja, bahwa orang tuanya secara otomatis bakal menerima aku sebagai
menantunya? Kemungkinan, bahkan hak penuh mereka untuk menolak aku, tetaplah
ada dan ada baiknya sejak semula ikut diperhitungkan. Ya, aku ingin kesana,
tapi dengan patokan bermula: aku benar-benar ingin kerja. Kembali kerja!
Kembali merasakan keutuhan dan kedaulatan tubuhku di dalam teriknya matahari,
dengan kesadaran bahwa butir-butir keringatku yang mengucur itu adalah
taruhanku untuk sesuap nasi yang halal. Soal menantu, kawin, cinta… ah,
hendaknya aku diperkenankan kiranya tidak dulu mempunyai urusan apa-apa dengan
itu semuanya. Kerangka-kerangka yang disebut Ina tadi, ingin kukubur…
setidaknya untuk sementara dulu. Aku ingin mengembalikan seluruh kedirianku
kembali kekesegarannya semula, yang dulu… entah telah berapa puluh tahun yang
lalu, telah hilang… oleh salahku sendiri. Aku harap, Ina, maupun orang tuanya,
sudi memandang diriku dalam kerangka persoalan seperti ini, dan tidak
menganggap aku di sana sebagai lebih dari itu. Aku datang sebagai pelamar
kerja, pelamar keadaan dan kemungkinan hidup yang baik kembali. (Suaranya
Turun, Nafasnya Satu-Satu) Sudah tentu, sudah tentu… kalian berhak menolak
lamaranku…
Korespodensi/ keterkaitan antara “tema, amanat dan tokoh”
Disini sudah sangat jelas dijelaskan sebelumnya pada pembagian unsur
intrinsik, bahwa tema yang diangkat yaitu Kehidupan dan adat istiadat
penari ronggeng, diambilnya tema ini tentunya berdasarkan kejadian
yang dialami oleh tokoh-tokoh yang ada pada novel, terutama tokoh utama yang
harus menjalani kehidupannya dan melaksanakan syarat-syarat untuk menjadi
seorang ronggeng yang sah berdasarkan budaya sebelumnya. Kemudian disini
diambilnya amanat Jalani lah kehidupan dengan sebaik-baiknya, walaupun
harus mengambil resiko yang tinggi. Juga merupakan kaitan dari tema
dan yang dialami oleh tokoh utama, dimana disaat kita sudah mengambil
keputusan, maka jalani lah keputusan yang sudah diambil itu dengan melakukan
sebaik-baiknya tanpa mengenal seberapa besar resiko yang akan kita peroleh.
Karena keputusan yang kita ambil pasti merupakan keputusan yang terbaik dari
pilihan-pilihan yang ada.
Korespondensi
: Dapat kita pahami dan maknai sendiri, puisi ‘sorga’ ini tentunya saling
memiliki keserasian antara judul, tema, isi dan amanat. Disini dapat kita
buktikan dengan beberapa lirik yang menyangkut judul beserta dengan amanatnya.
Judul : sorga.
Lirik yang mendukung sebuah judul :
Aku minta pula supaya sampai di sorga
Yang kata Masyumi + Muhammadiyah bersungai susu
Dan bertabur bidadari beribu
Tema : Keindahan sorga
Amanat yang berkaitan dengan judul, tema beserta liriknya :
Sorga pasti kita peroleh, selama kita terus melakukan kebaikan dan selalu
mengingat Sang Kuasa.
Pendekatan Struktural dalam Penelitian Sastra
Pendahuluan
Dalam penelitian karya sastra,
analisis atau pendekatan obyektif terhadap unsur-unsur intrinsik atau struktur
karya sastra merupakan tahap awal untuk meneliti karya sastra sebelum memasuki
penelitian lebih lanjut (Damono, 1984:2).
Pendekatan struktural merupakan pendekatan intrinsik, yakni membicarakan karya
tersebut pada unsur-unsur yang membangun karya sastra dari dalam. Pendekatan
tersebut meneliti karya sastra sebagai karya yang otonom dan terlepas dari
latar belakang sosial, sejarah, biografi pengarang dan segala hal yang ada di
luar karya sastra(Satoto, 1993: 32) Pendekatan struktural mencoba menguraikan
keterkaitan dan fungsi masing-masing unsur karya sastra sebagai kesatuan struktural
yang bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh(Teeuw, 1984: 135). Jadi dapat
diambil kesimpulan bahwa pendekatan struktural adalah suatu pendekatan dalam
ilmu sastra yang cara kerjanya menganalisis unsur-unsur struktur yang membangun
karya sastra dari dalam, serta mencari relevansi atau keterkaiatan unsur-unsur
tersebut dalam rangka mencapai kebulatan makna.
Mengenai struktur, Wellek dan Warren (1992: 56) memberi batasan bahwa struktur
pengertiannya dimasukkan kedalam isi dan bentuk, sejauh keduanya dimaksudkan
untuk mencapai tujuan estetik. Jadi struktur karya sastra (fiksi) itu terdiri
dari bentuk dan isi. Bentuk adalah cara pengarang menulis, sedangkan isi adalah
gagasan yang diekspresiakan pengarang dalam tulisannya (Zeltom, 1984: 99).
Menurut Jan Van Luxemburg (1986: 38) struktur yang dimaksudkan, mengandung
pengertian relasi timbal balik antara bagian-bagiannya dan antara
keseluruhannya.
Struktur karya sastra (fiksi) terdiri atas unsur unsur alur, penokohan, tema,
latar dan amanat sebagai unsur yang paling menunjang dan paling dominan dalam
membangun karya sastra (fiksi) (Sumardjo, 1991:54).
1. Alur (plot)
Dalam sebuah karya sastra (fiksi) berbagai peristiwa disajikan dalam urutan
tertentu (Sudjiman, 1992: 19). Peristiwa yang diurutkan dalam menbangun cerita
itu disebut dengan alur (plot). Plot merupakan unsur fiksi yang paling penting
karena kejelasan plot merupakan kejelasan tentang keterkaitan antara peristiwa
yang dikisahkan secara linier dan kronologis akan mempermudah pemahaman kita
terhadap cerita yang ditampilkan.
Atar Semi(1993: 43) mengatakan bahwa alur atau plot adalah struktur rangkaian
kejadian dalam cerita yang disusun sebagai interrelasi fungsional yang
sekaligus menandai urutan bagian-bagian dlam keseluruhan karya fiksi. Lebih
lanjut Stanton (dalam Nurgiyantoro, 2000: 113) mengemukakan bahwa alur atau
plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya
dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau
menyebabkan peristiwa yang lain. Dalam merumuskan jalan cerita, pembaca dapat
membuat atau menafsirkan alur cerita melalui rangkaiannya. Luxemburg memberikan
kebebasan penuh dalam menafsirkan atau membangun pemahaman dari jalannya
cerita. Alur bisa dilihat sebagai konstruksi yang dibuat oleh pembaca mengenai
sebuah deretan peristiwa atau kejadian yang saling berkaitan secara logis dan
kronologis, serta aderetan peristiwa itu diakibatkan dan dialami oleh para
tokoh (1986: 112).
Karena alur berusaha menguraikan jalannya cerita mulai awal sampai akhir
cerita, maka secara linier bentuk alur atau struktur cerita seperti dikemukakan
Nurgiyantoro yaitu dari tahapan-tahapan sebagai berikut:
a. Tahap penyuntingan, tahap ini pengarang memperkenalkan tokoh-cerita
melukiskan situasi latar, sebagai tahap pembukaan cerita, pembagian informasi
awal dan teruptama untuk melandasi cerita yang akan dilkisahkan pada tahap
berikutnya.
b. Tahap pemunculan konflik yang berkembang atau merupakan awal munculnya
konflik yang berkembang atau dikembangkan menjadi komflik pada peningkatan
konflik, pada tahap ini konflik berkembang atau dikembangkan tahap berikutnya.
c. Tahap kadar intensitasnya. Konflik-konflik yang terjadi baik itu internal,
eksternal ataupun kedua-duanya.
d. Tahap klimaks, pada tahap ini pertentangan yang terjadi dialami atau
ditampilkan pada tokoh mencapai titik intensitas puncak klimaks cerita akan
dialami tokoh utama sebagai pelaku dan penderita terjadinya konflik, pada tahap
ini merupakan tahap penentuan nasip tokoh.
e. Tahap penyelesaian, pada tahap ini keteganangan dikendorkan diberi
penyelesaian dan jalan keluar untuk kemudian diakhiri (2000: 150).
Masih mengenai alur (plot), secara estern Mursal (1990: 26) merumuskan bahwa
alur bisa bermacam-macam, seperti berikut ini:
a. Alur maju (konvensional Progresif ) adalah teknik pengaluran dimana jalan
peristriwanta dimulai dari melukiskan keadaan hingga penyelesaian.
b. Alur mundur (Flash back, sorot balik, regresif), adalah teknik pengaluran
dan menetapkan peristiwa dimulai dari penyelesaian kemudian ke titik puncak
sampai melukiskan keeadaan.
c. Alur tarik balik (back tracking), yaitu teknik pengaluran di mana jalan
cerita peristiwanya tetap maju, hanya pada tahap-tahap tertentu peristiwa
ditarik ke belakang (1990: 26)
Melalui pengaluran tersebut diharapkan pembaca dapat mengetahui urutan-urutan
atau kronologis suatu kejadian dalam cerita, sehingga bisa dimengerti maksud
cerita secara tepat.
2. Tokoh
Dalam pembicaraan sebuah fiksi ada istilah tokoh, penokohan, dan perwatakan.
Kehadiran tokoh dalam cerita fiksi merupakan unsur yang sangat penting bahkan
menentukan. Hal ini karena tidak mungkin ada cerita tanpa kehadiran tokoh yang
diceritakan dan tanpa adanya gerak tokoh yang akhirnya menbentuk alur cerita.
Rangkaian alur cerita merupakan hubungan yang logis yang terkait oleh waktu.
Pendefinisian istilah tokoh, penokohan dan perwatakan banyak diberikan oleh
para ahli, berikut ini beberapa definisi tersebut:
Tokoh menunjiuk pada orangnya, pelaku cerita (Nurgiyantoro, 2000: 165)
Penokohan adalah bagaimana pengarang menampilkana tokoh-tokoh dalam ceritanya
dan bagaimana tokoh-tokoh tersebut, ini berarti ada dua hal penting, yang
pertama berhubungan dengan teknik penyampaian sedangkan yang kedua berhubungan
dengan watak atau kepribadian tokot-tokoh tersebut (Suroto, 1989: 92-93).
Watak, perwatakan, dan karakter menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh
seperti ditafsirkan oleh pembaca, lebih menunjuk pada kualitas peribadi seorang
tokoh (Nurgiyantoro, 2000: 165).
Penokohan atau karakter atau disebut juga perwatakan merupakan cara
penggambaran tentang tokoh melalui perilaku dan pencitraan. Panuti Sudjiman
mencerikan definisi penokohan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra
tokoh (1992: 23). Hal senada diungkapkan oleh Hasim dalam (Fanani, 1997: 5)
bahwa penokohan adalah cara pengarang untuk menampilkan watak para tokoh di
dalam sebuah cerita karena tanpa adanya tokoh, sebuah cerita tidak akan
terbentuk.
Untuk mengenal watak tokoh dan penciptaan citra tokoh terdapat beberapa cara ,
yaitu:
a. Melalui apa yang diperbuat oleh tokoh dan tindakan-tindakannya, terutama
sekali bagaimana ia bersikap dalam situasi kritis.
b. Melalui ucapan-ucapan yang dilontarkan yokoh.
c. Melalui penggambaran fisik tokoh. Penggambaran bentuk tubuh, wajah dan cara
berpakaian, dari sini dapat ditarik sebuah pendiskripsian penulis tentang tokoh
cerita.
d. Melalui jalan pikirannya, terutama untuk mengetahui alasan-alasan
tindakannya.
e. Melalui penerangan langsung dari penulis tentyang watak tokoh ceritanya. Hal
itu tentu berbeda dengan cara tidak langsung yang mengungkap watak tokoh lewat
perbuatan, ucapan, atau menurut jalan pikirannya (Sumardja, 1997: 65-66).
Dilihat dari segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh, tokoh cerita dibedakan
menjadi dua yaitu tokoh utama (central character, main character)dan tokoh
tambahan (pheripheral character) (Nurgiyantoro, 2000: 176-178).
Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya. Tokoh ini tergolong
penting. Karena ditampilkan terus menerus sehingga terasa mendominasi sebagian
besar cerita. Karena tokoh utama paling banyak ditampilkan ada selalu
berhubungan dengan tokoh-tokoh lain, ia sangat menentukan perkembangan plot
secara keseluruhan.
Tokoh tambahan adalah tokoh yang hanya dimunculkan sekali atau beberapa kali
dalam cerita dan itu bersifat gradasi, keutamaannya bertingkat maka perbedaan
antara tokoh utama dan tambahan tidak dapat dilakukan secara pasti.
Karena tokoh berkepribaduian dan berwatak, maka dia memiliki sifat-sifat
karakteristik yang dapat dirumuskan dalam tiga dimensi, yaitu ;
a. Dimensi fisiologis, adalag ciri-ciri badan, misalnya usia (tingkat
kedewasaan), jenis kelamin, keadaaan tubuh, ciri-ciri muka, dan lain
sebagainya.
b. Dimensi sosiologis, adalah ciri kehidupan masyarakat, misalnya status
sosial, pekerjaan, peranan dalan masyarakat, tingkat pendidikan, dan
sebagainya.
c. Dimensi psikologis, adalah latar belakang kejiwaan, misalnya mentalitas,
tingkat kecerdasan dan keahliannkhusus dalam bidang tertentu (satoto, 1993:
44-45).
3. Latar (setting)
Kehadiran latar dalam sebuah cerita fiksi sangat penting. Karya fiksi sebagai
sebuah dunia dalam kemungkinan adalah dunia yang dilengkapi dengan tokoh
penghuni dan segala permasalahannya. Kehadiran tokoh ini mutlak memerlukan
ruang dan waktu.
Lartar atau setting adalah sesuiatu yang menggambarkan situasi atau keadaan
dalam penceriteraan. Panuti Sudjiman mengatakan bahawa latar adalah segala
keterangan, petunjut, pengacuan yang berkaiatan dengan waktu, ruang dan suasana
(1992:46). Sumardjo dan Saini K.M. (1997: 76) mendefinisikan latar bukan bukan
hanya menunjuk tempat, atau waktu tertentu, tetapi juga hal-hal yang hakiki
dari suatu wilayah, sampai pada pemikiran rakyatnya, kegiatannya dan lain
sebagianya.
Latar atau setting tidak hanya menyaran pada tempat, hubungan waktu maupun juga
menyaran pada lingkungan sosial yang berwujud tatacara, adat istiadat dan
nilai-nilai yang berlaku di tempat yang bersangkutan.
a. Latar tempat
Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam
sebuah karya fiksi. Latar tempat berupa tempat-tempat yang dapat dijumpai dalam
dunia nyata ataupun tempat-tempat tertentu yang tidak disebut dengan jelas
tetapi pembaca harus memperkirakan sendiri. Latar tempat tanpa nama biasanya
hanya berupa penyebutan jenis dan sifat umum tempat-tempat tertentu misalnya
desa, sungai, jalan dan sebagainya. Dalam karya fiksi latar tempat bisa
meliputi berbagai lokasi.
b. Latar waktu
Latar waktu menyaran pada kapan terjadinyaperistiwa-peristiwa yang diceritakan
dalam sebuah karya fiksi. Masalah “kapan” tersebut biasanya dihubungkan dengan
waktu faktual, waktu yang ada kaitannya atau dapat dikaitkan dengan sejarah.
Pengetahuan dan persepsi pembaca terhadap sejarah itu sangat diperlukan agar
pembaca dapat masuk dalam suasana cerita.
c. Latar sosial
Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan
sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalan karya fiksi. Perilaku
itu dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, pandangan hidup, pola
pikir dan bersikap. Penandaan latar sosial dapat dilihat dari penggunaan bahasa
daerah dan penamaan terhadap diri tokoh.
4. Tema dan amanat
Secara etimologis kata tema berasal dari istilah meaning, yang berhubungan
arti, yaitu sesuatu yang lugas, khusus, dan objektif. Sedangkan amanat berasal
dari kata significance, yang berurusan dengan makna, yaitu sesuatu yang kias,
umun dan subjektif, sehingga harus dilakukan penafsiran. Melalui penafsiran
itulah yang memungkinkan adanya perbedaan pendapat (Juhl dalam Teeuw, 1984:
27). Baik pengertian tentang “arti” maupun “makna” keduanya memiliki fungsi
yang sama sebagai penyampai gagasan atau ide kepengarangan.
Lebih jauh Sudjiman memberikan pengertian bahwa tema merupakan gagasan, ide
atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra (1992:52). Mengenai adanya
amanat dalam karya sastra bisa dilihat dari beberapa hal, seperti berikut ini:
“dari sebuah karya sastra adakalanya dapat diangkat suatu ajaran moral atau
pesan yang ingin disampaikan pengarang, itulah yang disebut amanat. Jika permasalahan
yang diajukan juga diberi jalan keluarnya oleh pengarang, makan jalan keluarnya
itulah yang disebut amanat. Amanat yang terdapat pada sebuah karya sastra, bisa
secara inplisit ataupun secara eksplisit. Implisit jika jalan keluar atau
ajaran moral diisyaratkan dalam tingkah laku tokoh menjelang cerita berakhir.
Eksplisit jika pengarang pada tengah atau akhir cerita menyampaikan seruan,
saran, peringatan, nasehat, dan sebagainya. (Sudjiman, 1992: 57-58).
DAFTAR PUSTAKA
Andre hardjana. 1991. Kritik Sastra Indonesia. Bandung: Angkasa.
Atar Semi. 1993. Anatomi Sastra. Jakarta: Angkasa raya
Burhan Nurgiyantoro. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta.: Gajah Mada
University Press.
Faruk. 1999. Pengantar Sosiologi sastra. Yogyakarta: UGM Press.
Griffith, Jr. Kelley. 1990 Writing Essays about Literature: A Guide and Style
Sheet. New York: Harcout, Brave Javonovich.
Hasim amir. 1990. Pendidikan Sastra Lanjut. Malang: Penyelenggara Pendidikan
Pascasarjana, Proyek peningkatan perguruan tinggi.
Jakop Sumardjo. dan Saini K.M. 1997. Apresiasi Kesusasteraan. Jakarta:
Gramedia.
Luxemburg, Jan Van, Meikel Basl, Willem G Westeijn. 1986. Pengantar Ilmu Sastra
(terj. Dick Hartoko), Jakarta: Gramedia.
Mursal Esten. 1990. Kesusastraan: Pengantar Teori dan Sejarah. Bandung:
Angkasa.
Panuti Sujiman. 1996. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
------------------- 1992. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.
Sapardi Joko Damono. 1978. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta:
PPPB Dep. Pdan K.
------------------- 1983. Kesusastraan Indonesia Modern : Beberapa Catatan.
Jakarta: Gramedia.
Soediro satoto. 1993. Metode Penelitian Sastra. Surakarta: UNS Press.
Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.
------------ 1988. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta:
Gramedia.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1993. Teori Kesusastraan. (Terj. Melani
Budianta) Jakarta: Gramedia.